Imbas Krisis Air di Gili Trawangan, Lima Hotel Terancam Tutup
Beberapa wisatawan tengah berjalan di pelabuhan penyeberangan Gili Trawangan (Samawa Post/ist)
Samawapost, Lombok Utara – Sedikitnya lima hotel di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, terancam menghentikan operasional akibat krisis air bersih yang terjadi sejak 3 September 2026. Tiga hotel dipastikan tutup jika hingga Rabu pagi pasokan air belum kembali mengalir, sementara pelaku usaha terpaksa membeli air dari sumber alternatif dan menghentikan penerimaan reservasi baru.
Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan, mengatakan krisis air terjadi di tengah tingginya kunjungan wisatawan. Kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan perizinan PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) yang bersinggungan dengan sejumlah regulasi pemerintah pusat.
“Jadi tiga dari hotel besok sudah akan tutup. Lima totalnya, tiga sudah pasti tutup kalau sampai dengan besok pagi tidak ada suplai air,” ungkapnya, Selasa (8/9).
Untuk memenuhi kebutuhan operasional, sejumlah hotel membeli air bersih dengan biaya tinggi, mencampur air bersih dengan air payau dari sumur tradisional, hingga menghentikan penerimaan reservasi kamar baru.
“Ada yang membeli air, mencampur air bersih dengan air payau, ada beberapa sumur tradisional di sini yang kita gunakan. Jadi mereka tidak menerima reservasi baru lagi (karena tidak ada air,red),” katanya.
Lalu mencontohkan, hotel dengan kapasitas 22 kamar rata-rata membutuhkan 15 meter kubik atau 15.000 liter air bersih per hari. Krisis tersebut juga membuat pengelola hotel memfasilitasi tamu yang ingin melakukan early check-out dan mencari akomodasi lain.
“Kalau mau early check-out akan diusahakan. Akan berusaha dicarikan akomodasi yang bersedia, yang mau. Which is di seluruh Gili ini kan situasinya sama. Gili Trawangan mungkin kita akan alihkan ke kedua Gili yang lain, gitu,” terangnya.
Dampak krisis air juga dirasakan usaha pendukung dan warga lokal, termasuk laundry dan restoran. Salah satu restoran disebut telah menghentikan operasional sejak Sabtu karena keterbatasan pasokan air.
“Bahkan sejak Sabtu lalu, salah satu restoran sudah mendeklarasikan tidak bisa beroperasi lagi karena keterbatasan suplai air,” tambahnya.
Menurut Lalu, kondisi serupa pernah terjadi dua tahun lalu ketika pasokan air terhenti selama empat hari. Namun, dampaknya kali ini dinilai lebih besar karena terjadi saat tingkat hunian wisatawan sedang tinggi.
“Dua tahun yang lalu kan sempat empat hari ditutup. Dan selalu di masa high season, begitu. Saya tidak tahu skenarionya dari mana ini, bukan ranah saya itu,” ucapnya.
Terkait persoalan perizinan yang disebut bersinggungan dengan aturan kawasan konservasi laut dan hutan antara pemerintah pusat dan daerah, Lalu mengatakan GHA telah bersurat kepada Presiden Prabowo Subianto pada Minggu lalu.
“Hari Minggu saya bersurat ke Pak Presiden Prabowo karena ini terkait dengan tumpang tindih peraturan di pusat, antara pusat dan daerah. Tiga Gili ini kan menjadi kawasan konservasi laut dan hutan,” bebernya.
Di tingkat daerah, GHA telah berkoordinasi dengan Bupati Lombok Utara dan Penjabat Gubernur NTB. Rapat koordinasi bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTB menghasilkan keputusan untuk memperkuat diskresi pemerintah daerah guna membantu mitra PDAM menyelesaikan persoalan perizinan dalam jangka panjang.
Lalu menyayangkan persoalan pasokan air bersih terus berulang dan dinilai berdampak terhadap keberlanjutan sektor pariwisata di NTB.
“Ini membuat kita kehilangan banyak hal yang seharusnya bisa dibicarakan bersama seluruh pemangku kepentingan. Harapan saya, mari kita serius berkolaborasi antara pemda, provinsi, dan pemerintah pusat jika ingin mengerti konsep pariwisata secara utuh,” tutupnya. (SP-04)

Komentar (0)